Life's a bitch
17.48.
Selasa, adalah hari les musik buat precil2, dan saya bertugas mengantar mereka, menunggu dari jam 5 sampai mereka selesai jam 7 malam.
Biasanya, begitu si mas Kemal turun dan masuk kelas, saya dan adiknya langsung ke solaria, nyari tempat duduk dan sesuatu buat dimakan sambil nunggu jam 18.30, saat kelas piano si adik dimulai. Sore ini, karena si precil kecil ketiduran dan saya gak tega bangunin, jadilah saya gak turun, diem aja di mobil sambil dengerin musik.
Dan perempuan ini lewat. Bertelanjang kaki, menggandeng anaknya yang barangkali baru berumur 2 atau 3 taun yang juga bertelanjang kaki, membukai tong2 sampah, memungut apa saja yang bisa diambil dan (mungkin) dijual kembali. Setelah beberapa meter, entah sudah berapa jauh mereka berdua berjalan tadi, si anak merengek dan perempuan itu menggendong anaknya dengan kain lusuh.
Saya terkesima, seperti terhipnotis mata saya mengikuti ke arah mana mereka pergi. Saya menangis. Dari kabin mobil yang dingin dan nyaman, saya menangis dan memotret mereka dengan kamera handphone, seadanya, sekenanya. Bahkan jendela mobilpun hanya separuh terbuka.
Sekali lagi, sore ini saya menyumpahi hidup yang sungguh rasanya tak adil buat mereka.
*postingan ngasal tanpa diedit*
Sent from my beautiful BlackBerry® wireless device
